logo_indonesia

  •   Nita Oktaviya Pemenang Kategori SMP Penulis Muda Indonesia 2010
      Delicious  Digg  Reddit    Stumbleupon  Twitter


    Aku bernama lengkap Nita Oktaviya. Usiaku 13 tahun. Pada tanggal itu pula, dokter pernah memperkirakan bahwa aku tidak akan lama bertahan hidup karena lahir prematur dengan kondisi fisik yang lemah. Aku adalah putri bungsu pasangan Mama Asti (42) dan Papa Ari (50). Kakakku satu-satunya juga perempuan. Namanya Ayu (21).

    Saat ini, aku tercatat sebagai salah satu siswi SMP Negeri 1 Jakarta Pusat, kelas VIII-3. Aku punya banyak hobi, diantaranya menulis puisi, menulis naskah teater, bernyanyi, dan sesekali mengasah kemampuanku bermain peran dalam klub teater sekolah. Cita-cita kecilku sebenarnya ingin menjadi seorang polisi wanita, tapi kini aku sedang tertarik menjadi seorang aktris profesional. Keinginan ini muncul sejak aku mengikuti ekstrakurikuler teater, 6 bulan lalu. Sampai akhir Mei 2010, aku sedikitnya telah mementaskan dua naskah teater, yaitu pada acara perpisahan kepala sekolah, dan acara pelepasan murid kelas IX SMP Negeri 1 Jakarta.

    Kakakku adalah waliku. Orangtuaku mempercayakan pengasuhanku pada kakak. Tak heran, banyak inspirasi kehidupan yang kuperoleh dari kakakku. Salah satunya tulisanku yang berjudul ‘Bendera itu tidak berkibar disini lagi. Sebagian isinya mengisahkan tentang kakakku. Ide pembuatan tulisan kudapat ketika ada seorang pemuda yang datang ke rumahku, dan menyatakan niatnya untuk memperistri kakakku. Kabar ini cukup mengejutkan banyak pihak. Dalam waktu yang sangat singkat, kakakku dan calon suaminya berani memutuskan untuk menikah. Padahal mereka sama-sama belum mengenal calon pasangannya secara keseluruhan. Ini mengingatkanku pada mega film Ayat-Ayat Cinta.

    Dalam film tersebut, memang ada satu poin positif yang bisa dipetik, yaitu lelaki yang baik, akan datang kepada kita dengan penuh kerendahan hati, menawarkan hubungan yang halal dan terhormat, bukan hanya menjanjikan kebahagiaan-kebahagiaan yang belum tentu ada. Kisah kakakku ini bisa dibilang mirip dengan film tersebut. Aku mengamati, ada sebuah kata sederhana yang penjabarannya tidak sesederhana yang dibayangkan, tapi juga tak sesulit yang dikira. Kata itu adalah “nikah”. Simpel kan? Hanya 5 huruf. Tapi dalam kehidupan masyarakat kita, nikah nampaknya menjadi sebuah sistem yang dibuat rumit. Entah memang rumit, atau sengaja dirumit-rumitkan. Pihak pertama yang menanggung kerumitan ini adalah pihak yang kalah lotre (tentunya perempuan).

    Banyak pernak-pernik sosial yang berkenaan dengan perempuan timur. Hal ini mengakibatkan ‘bendera’ itu tidak berkibar di sini. Namun inilah realita budaya. Dan kita tidak akan pernah bisa tutup mata dengan yang namanya realita atau kenyataan. Terlebih lagi, pada realita yang telah membudaya dan menjadi kebiasaan. Bendera sendiri melambangkan sebuah kemenangan atau kemerdekaan. Kita bisa mengibarkan bendera bila telah merdeka. Dengan kata lain, kita harus mengusahakan agar bendera itu bisa berkibar, walaupun bukan di sini. Bendera itu adalah bendera kemenangan sang ‘pengalah’ lotre.

    Aku berharap, tulisan singkat dan sederhana ini, bisa dimengerti dan dipahami oleh banyak pihak, terutama anak-anak. Di tangan anak-anak lah sebuah kebudayaan memiliki dua nasib: dimentahkan atau dimatangkan.

    DOWNLOAD tulisan "BENDERA ITU TIDAK BERKIBAR DISINI"
     


     

    Searchs :
    btn_contact
    btn_sitemap


  •  
  • Tentang UNICEF Indonesia    Sumber Informasi     Legal     Situs global UNICEF
    For every child
    Health, Education, Equality, Protection
    ADVANCE HUMANITY